Banyak Anak Banyak Rejeki
Pepatah diatas banyak dijadikan oleh sebagian kalangan untuk membenarkan tindakan mereka yang tak segan-segan memproduksi anak-anak manusia. Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi. Apalagi sejak jaman ORBA yang mencanangkan Program Keluarga Berencana yang dimotori oleh BKKBN yang membuat slogan “Dua Anak Cukup. Laki-laki atau Perempuan Sama Saja”
Tapi apa benar, Semakin banyak anak, rejeki bertambah pula?
Aku terlahir sebagai anak ke-6 dari 7 bersaudara. Masa kecilku cukup pahit (menurutku). Sejak kelas 4 SD aku telah diungsikan orang tuaku ke Kota Bandar Lampung untuk menuntut ilmu disana. Aku tinggal dengan kakak laki2ku yang berkerja sebagai sopir truck. Ekonomi beliau sangat pas2an. Bayangkan setiap hari aku hanya makan dengan sayur asem plus ikan asin. Itu terjadi selama 1 tahun.
Memasuki awal kelas lima sd, aku bertemu dengan seorang sahabat dan akhirnya aku diangkat oleh keluarga itu sebagai anak. Pak Amir. Begitu nama ayah angkatku yang asli orang Solo dan masih keturunan darah Biru. Dua tahun aku disana mengikuti adat istiadat ala Solo. Awalnya aku merasa kikuk. Maklumlah dalam keluarga orang Sumatera, kita jarang diajarkan tata krama dan jarang pula diajarkan basa-basi. Yang ada hanya tradisi slonong boy. Setidaknya itulah tradisi yang ada dikeluargaku. Entah kalo tradisi di keluarga anak Sumatera lain, aku tak tau.
Memasuki bangku SMP aku kembali lagi kerumah kakakku. Alasannya tak lain adalah lantaran kakakku habis2an di marahin ibuku yang baru mengetahui bahwa aku sudah dua tahun tinggal di rumah ayah angkatku tanpa sepengetahuan keluargaku di kampung.
Berat rasanya meninggalkan rumah ayah angkatku yang baik itu terlebih lagi aku sudah sangat terbiasa dengan adat solo. Santun, lemah lembut dan berkepribadian baik. Tapi apa hendak dikata. Aku masiy menghormati beliau sebagai kakakku yang baik.
Aku telah terbiasa mandiri sedari kecil. Apalagi dirumah ayah angkatku itu, aku telah diajari bagaimana bangun pagi, membantu ibu kepasar dan berjualan di toko. Jadi selepas dari sana, aku telah benar2 siap terjun ke dunia usaha walau tanpa modal.
Di terminal bus antar kota, yang tak jauh dari lokasi rumah kakakku, aku mulai berjualan es mambo. Sepulang sekolah aku pergi ke agen es mambo. Dengan termos es ditangan, aku mulai menjajakan daganganku dengan cara keliling terminal plus turun naik bus AKAP yang datang dari Jawa. Tak banyak untung yang didapat. Namun setidaknya cukup untuk ongkos sekolah dan makan siang di warteg bu Kris. Alhamdulillah….
Jadi pada intinya, semasa kecil aku tidak bahagia. Orang tuaku yang bekerja sebagai pedagang plus petani dan masiy memiliki pemikiran yang sangat primitif. ‘Untuk apa menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi, belum tentu mereka ingat sama kami setelah mereka sukses’. Benar2 pemikiran yang sesat. Tak heran bila kakak2ku hanya mampu sekolah hingga mentok bangku sma bahkan adikku cuma tamat SD (kl adikku yang ini murni otak udang). Tragis memang. Padahal kalo mau jujur saat itu orang tuaku termasuk pedagang yang sukses plus petani yang berhasil. Hal itu bisa dibuktikan dengan keberadaan satu2nya agen kopi dan karet yg terdapat didesaku. Dan agent itu punya ayahku.
Lantas apa hubungannya dengan pepatah diatas, Banyak Anak Banyak Rejeki?
Kalo mengacu pada keluargaku sendiri, memang betul. Orang tuaku banyak rejekinya. Tapi utk apa banyak rejeki bila anak2nya tidak ada yang sarjana? Atau buat apa banyak tanah dan kebon kopi bila salah satu anaknya menjadi sopir truk? Apa yang patut mereka banggakan bila semua anaknya tidak ada satupun yang menjadi anggota DPR, seperti Al Amin Nasution, misalnya?, atau seperti Bang Ical? atau minimal seperti Anton Medan misalnya? (yang ini jelas mengada-ngada). Banggakah mereka padaku yang hanya menjadi Blogger Gurem?
Banyak anak banyak rejeki. Itu berlaku bagi orang yang membuat anak. Tidak berlaku bagi sang anak – bila pemikiran sang pembuat anak sama seperti pemikiran kedua orang tuaku yang masiy primitif. Ibu maafkan aku. Untuk ayahku, puaskah dirimu melihat anak2moe tidak ada yang ‘jadi orang?’
Banyak anak banyak rejeki. Lantas bagaimana kalo banyak isteri? Apakah masiy banyak rejeki pulak? Dunno
Tulisan ini saya buat lantaran aku sedih setengah mati karena kakaku gagal menjadi Kades di desaku lantaran kalah bersaing dengan seorang sarjana lulusan Unsri. Tabahkan hatimoe myBigBrother.
| Kategori Postingan Terkini | Khairuddin Syach
Artikel Terkait Berdasarkan Kategori
- » Gempa Meulaboh Minggu
- » Abu Vulkanik Irlandia
- » Final Astaga!com Usai, Selamat Kawan!
- » Astaga Hujan Lebat Petir Menyambar
- » Job Sepi, Lifestyle Mati Gaya
- » Beritajitu Com Masih Tuli
- » Comment Discarded Menjengkelkan
- » Welcome to BlogEngineNET
- » Belajar Bisnis Online
- » Sang Visioner Rusli Zainal
- » Sangat Melelahkan
- » Domain Gratis Lagi
- » Hidup Itu Pilihan
» Kopdar di Posko PKS- » Menanti Maut







Sy sentiasa berdoa agar sekiranya telah di beri keimanan dan ketakwaan dalam diri , ia berkekalan sehingga akhir hayat. Jadi selagi hayat kita di kandung badan, berbuatlah baik , berpikiran positif, janganlah suka menganiaya org lain, SUCIkan hati kita coz apa yg kita lakukan di dunia akan dinilai di akhirat kelak . ^^.


kalo secara matre, ungkapannya banyak project banyak rejeki (dan dibayar pula)
kalo banyak anak banyak rejeki, bisa juga, bukankah anak juga rejeki yang patut disyukuri :) …
Saya hadir…
orang tuaku juga guru sd seperti orang tuanya mas andy. waktu saya sma, ayah wafat karena kecelakaan pada saat naik motor. padahal sedang butuh banyak biaya. rumah dijual kemudian saya ikut kakak ibu / pakde di solo. terima kasih pakdhe yang memberikan tempat untuk berteduh dan uang saku waktu sma dan kuliah. sekolah hanya sampai d3. s1nya biaya sendiri setelah kerja.
jangan sedih deh! hihihi kalau gagal jadi kades, nyaleg ajah…
keluarga saya jga besar sekali, 8 anak, bapak ibu saya hanya guru SD berpangkat rendahan, tapi anak2nya semua jadi sarjana, bahkan beberapa mencapai s2 dan s3. menantu2nya semua minimal sarjana, jadi, kalau ngumpul persis seminar atau lokakarya… intinya pada motivasi, bukan keadaan ekonomi.
*sayur asem dan ikan asin itu sangat bergizi kang! sayur penyedia vitamin, ikan asin penyedia protein. tambah buah sembarang sudah jadi menu sehat*
saya dari kecil juga sering mengalami kesulitan ekonomi sehingga harus berusaha sendiri. banyak masa pahit yang sudah terlewati, namun semua sekarang jadi kenangan yang manis, karena tidak semua orang bisa mengalami seperti yang saya dan saudara2 saya alami…
tetap semangat bang…
saya juga kalo nginget2 masa kecil jg kurang bahagia… ibu kerja di bandung, ayah ndak bagus hubungan sama kakek saya, padahal saya dititipkan pd kakek saya…
Wah, ternyata sampe seperti itu perjuanganmu.. Salut bro! Mantap! Saya jadi terinspirasi untuk berjuang lebih banyak lagi. Tengkyu loh
Perjuangan hidup yang patut diacungi jempol Bang Khay, bersyukur dengan yang kita miliki sekarang adalah yang terbaik khusnudzon kepada orang Tua adalah bukti bakti kita, ohya bang aku mo koment di RBT kok ndak bisa kenapa ya dan bannernya sampean di tempat saya kok gak muncul gambarnya mang kenapa?