Khairuddin Syach Weblog |

Festival Museum Nusantara

Situs Panitia Festival Museum Nusantara, Kok Rusak?

Saturday Jan 2, 2010

Festival Museum Nusantara

Walah kok gitu siy? Situs Panitia Festival Museum Nusantara, Kok Rusak? Yang lebih mengherankan lagi, artikelnya yang semula melimpah, kini hanya tersisa postingan standard wordpress, Hello World!

Kalau saya analisa, mereka baru menginstall wordpress pertanggal 02 Januari 2010. Saya juga lupa mencatat, sebelum ini mereka menggunakan CMS apa. Tapi kl ga salah, Joomla dech. Kok sekarang ganti wordpress, kang? Apa joomla terdapat bugs? hehehehe..

Begitu juga ketika saya mencoba mengakses halaman http://kontes.kemuseumyuk.com. Yang tampak hanya folder cgi-bin dowang. Hmm.. apa mereka lagi maintenance kali yak.. Kalau iyah, mudah-mudahan cepat kelar, pak momod… Butuh bantuan? Telepon ajah 14022.. -itu mah telpon KFC yak :D

Maksud saya main kesana cuma mau mendaftarkan artikel Festival Museum Nusantara ini. Kebetulan posisi udah bagus. Khan sayang kalau tidak didaftarkan. Siapa tau ajah bisa melihat-lihat festival museum disana secara gratis..hehehe..


Festival Museum Nusantara

Tuesday Dec 22, 2009

Festival Museum Nusantara adalah sebuah Festival promosi untuk memperkenalkan Museum yang ada di Taman Mini keseluruh penjuru Nusantara. Festival ini mengambil tema Festival Museum Nusantara yang disponsori oleh http://kemuseumyuk.com

Penyelenggaran Festival Museum Nusantara sejalan dengan proyek pemerintah yang menargetkan kunjungan wisatawan luar negeri sebesar 6,5 juta pada akhir tahun 2009 yang dikemas dalam program Visit Indonesia Year.

Salah satu festival yang diadakan oleh kemuseumyuk adalah mempromosikan kembali objek wisata yang terdapat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) agar masyarakan luas dapat mengenal lebih jauh sejarah berbagai museum yang ada disana. Terdapat 17 museum bersejarah yang berdiri disana. Salah satunya adalah Museum Indonesia.

Salah satu kelebihan dari Museum Indonesia ini adalah gedungnya bisa dimanfaatkan untuk acara pesta pernikahan, seminar ataupun sebagai tempat pertemuan dengan rekan-rekan bisnis.

Museum Indonesia seperti yang saya dikutip dari situs panitia dengan judul Museum Indonesia , menjalankan fungsinya melalui pameran tetap dengan tiga tema :

Lantai I bertema Bhinneka Tunggal Ika, menampilkan pakaian adat dan pakaian pengantin secara lengkap yang meliputi 27 provinsi, sesuai dengan jumlah provinsi di Indonesia pada saat peresmiannya. Koleksi pakaian pengantin dan pakaian adatnya paling lengkap dan tidak dijumpai di museum lain di Indonesia, bahkan di dunia. Pameran keanekaragaman pakaian adat dan pakaian pengantin sekaligus merupakan cermin kemajemukan budaya masyarakat Indonesia, baik dilihat dari sisi agama, pakaian, kesenian, maupun adat istiadatnya.

Lantai II bertema Manusia dan Lingkungan, menampilkan benda-benda bundaya di lingkungan sekitar yang diwujudkan dalam bentuk rumah tradisional berupa rumah tinggal, rumah ibadat, dan lumbung padi. Bangunan-bangunan tersebut menyesuaikan keadaan lingkungan, misalnya rumah di dataran rendah, di atas pohon, dan di atas sungai. Selain itu juga ditampilkan ruang/bagian rumah, antara lain kamar pengantin Palembang, ruang dalam Jawa Tengah, dan ruang dapur Batak. Benda budaya dan peralatan mata pencaharian yang dipamerkan meliputi alat perikanan, alat berburu dan meramu, alat pertanian, serta upacara-upacara daur hidup (life cycle rites) yang ditampilkan dalam bentuk diorama, meliputi upacara tujuh bulan (mitoni), upacara turun tanah, upacara khitanan, upacara potong gigi (mapedes), upacara penobatan datuk, dan pelaminan Sumatera Barat yang mewakili upacara pernikahan.

Lantai III bertema Seni dan Kriya, menampilkan hasil seni garapan dan seni ciptaan baru, antara lain aneka kain yang meliputi songket, tenun, dan batik; berbagai benda kerajinan dari bahan logam perak, kuningan, dan tembaga; seni ukir dari bahan kayu gaya Jepara, Bali, Toraja, dan Asmat. Pohon hayat—yang diilhami gunungan dalam pertunjukkan wayang sebagai pembuka, pergantian, dan penutup suatu adegan dalam pertunjukan wayang—berdiri megah setinggi delapan meter dan lebar empat meter, lambang alam semesta yang mengandung unsur udara, air, angin, tanah, dan api. Penempatan Pohon hayat di lantai III sekaligus menutup rangkain cerita atas seluruh tema pameran secara keseluruhan.

Selain pameran tetap, secara berkala Museum Indonesia juga menyelenggarakan pameran dengan tema khusus, antara lain pameran topeng, kain, senjata, dan lukisan yang didukung oleh peragaan yang berkait dengan tema, misalnya peragaan membatik dan menatah wayang.

Dengan mengenal lebih jauh tentang keberadaan Museum Indonesia, diharapkan kita akan mengunjunginya dan memanfaatkan sebesar-besarnya fasilitas yang ditawarkan oleh museum indonesia tersebut baik sebagai sarana pendidikan, bisnis maupun sebagai tujuan wisata domestik. Yuk kita sukseskan Festival Museum Nusantara agar pariwisata ditanah air khususnya objek wisata museum di TMII dapat kembali berjaya.