Posted by Festival Museum Nusantara | Under Masa Lalu
Tuesday Jun 16, 2009
Jatuh cinta berjuta rasanya. Begitulah penggalan sebuah lagu -yang-entah siapa yang menyanyikannya. Tapi kalau tidak salah situ sebuah lagu dari Jeng Vina, bukan?
Hujan masih deras tatkala kita lewati jalan setapak sepayung berdua. Jalanan kecil yang tergenang oleh air seolah tak terasa apa-apa. Padahal waktu itu aku masih ingat, jam 23.00 WIB. Ada bahagia yang menyeruak dari lubuk hatiku. Seorang gadis kecil kini berada disampingku. Berdua meretas jalan. Melangkah ringan menuju rumah, tempat peraduan terakhir kita.
Kini setelah berpisyah hampir15 tahun, semalam tiba-tiba aku mendapkan sebuah email darimu. Isinya? Tentu saja cerita indahmu saat kita masih remaja beserta photo2 kita disaat mencuci disungai. Sungguh sebuah kejutan yang tiada pernah aku duga sebelumnya. Tapi kok sekarang kamu janda?? Kok belum punya anak?? *mulai gamang*
Malam ini hujan masih deras mengguyur Kota Ciputat (JKS), dari seberang sana, samar2 aku dengar suara tawa wong sableng yang tengah bersuka cita lantaran blog nya berhasil menduduki page #2 pada google SERP. Congrat hars… teruslah begadang sampai subuh..
Doakan gw yah. Semoga keikut sertaan gw dalam kontes Rusli Zainal Sang Visioner membuahkan hasil. Setidaknya walaupun gw ga menang, tapi ada hikmah dibalik itu, yaitu sebuah proses dalam kekalahan tersebut. Itu yang perlu. Mudah-mudahan dukungan kalian terhadap blog ini mendapat amalan yang setimpal dari-Nya. Amin
Posted by Festival Museum Nusantara | Under Masa Lalu
Friday Mar 27, 2009
Pukul 1:22.
Ingatanku tertuju ke masa silam. Masa yang penuh dengan penderitan dan cobaan. Masa pahit dalam hidupku. Masa yang menemani perjalanan panjangku yang belum berujung.
Tengah malam. Perutku terasa lapar sekali. Ku lihat dompet. Kosong. Ku arahkan pandanganku keluar jendela. Sepi. Sunyi. Senyap. Hanya ada suara kodok bangkong yang belum juga tidur. Hujan mulai reda.
Ku langkahkan kaki menuju tempat berwudhu. Ku tengadahkan kedua tanganku. Setelah penuh oleh air, segera ku teguk. Dingin. Namun tak jua mengurangi rasa laparku.
Tubuhku masiy terbungkus air wudhu. Aku mulai merebahkan diri dekat mimbar masjid sambil melafalkan beberapa ayat suci Al-Qur’an. Tak lama kemudian aku tertidur. Hanya bedug subuhlah yang membuat aku terbangun.
Kisah ini adalah kisah dimana pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah jawa ini. Lokasi masjid adalah di desa buah kec. Balaraja, Tangerang.
Kisah yang pahit, masa yang penuh dengan deraian air mata. Hanya kekuatan hatilah yang membuat aku bisa spt sekarang ini.
Ya Rabb, terimakasih atas segala ni’mat-Moe
Posted by Festival Museum Nusantara | Under Masa Lalu, Postingan Terkini
Monday Mar 16, 2009
Jangan kau tanyakan siapa itu ‘kamu’. TP yg perlu kau perhatikan adalah adalah dirimu. Bukan diriku, apalagi tubuh dewi persik. Jauh…
Aku terpana, tepatnya terperangah tatkala bendera kuning telah berkibar dengan indah didepan rumahmu. Seandainya dirimu belum dipanggil-Nya secepat ini, aku yakin pasti yang berkibar didepan rumahmu adalah bendera PDIP. Partai kesukaanmu lantaran dirimu tergila-gila sama ibu Megawati (ada tahi lalatnya yak Jan?)
Aku masiy ingat saat bulan puasa tahun lalu. Saat perut ini keroncongan menahan lapar, engkau dengan asyiknya menikmati segelas es kelapa muda didepanku yang tengah main game PES2009. Aku cuek. Itu urusanmu dengan Nya bukan denganku.
Kini, saat ajal menjemputkmu, engkau pergi dengan segala kepayahanmu. Engkau menjerit-jerit bak tukang bakso kaki-5 yang digebukin satpol pp, bahkan lebih sakit kliatannya.
Kepergianmu mengingatkan aku, bahwa ajal bisa datang kapan saja, tanpa pernah kita tahu.
Postingan ini saya dedikasikan utk seorang kawan yang telah berpulang ke rahmatullah dengan kondisi yang mengenaskan. * berdoa*